SETOR DAURI

Santri di bagi beberapa kelompok, minimal satu kelompoknya 6-12 orang, kemudian santri berjajar panjang dan setiap santri harus memperdengarkan bacannya kemudian ditashih oleh ustadznya baru dihafalkan secara bergantian.

AGENDA TASMI 10-30 JUZ

Agenda tasmi ini bertahap dari 5 juz terlebih dahulu, 10 juz hingga 30 juz. sedangkan agenda tasmi harian yakni 1 juz tujuannya agar hafalannya mengalir seperti alfatihah

PROGRAM WEEKEND QURANI

Program weekend qurani ini dilaksanakan setiap akhir pekan, yakni sabtu - minggu. dengan menu kegiatan ziyadah, murojaah, setor hafalan, tahadjud 2-3 juz, muhadloroh dan taujih dari para musyrif GRQ

HAFLAH PONDOK TAHFIZH GRQ

Kegiatan haflah ini di laksanakan ketika santri sudah menyelesaikan hafalannya 30 juz, dalam acara tersebut santri harus menyetorkan hafalan terakhirnya kepada musyrif di depan jamaah dan santri lainnya.

PHOTO BERSAMA

PESERTA TASMI' AKHWAT PADA GEBYAR PEKAN PARADE TASMI GENERASI RABBANI QURANI

PROGRAM IFTHOR SENIN KAMIS PONDOK TAHFIZH GRQ

Bismillah Alhamdulillah yg dgn nikmatnya sempurnalah segala kebaikan. Mari kita raih pahala yg luar biasa ... pahala amal sholeh dgn memberikan ifthor utk para penghafal quran. Semoga kita mendapatkan apa yang dijanjikan Rasulullah saw : "Barangsiapa memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. " HR Ibnu Hibban no 1736 . Shohih

Social Networks

Random Posts

Recent Posts

Recent in Sports

Recent comments

About me

Follow by Email

Sponsor

Most Popular

Monday, November 28, 2016

»» Keistimewaan Puasa Senin Kamis ««


»» Keistimewaan Puasa Senin Kamis ««
Keutamaan melaksanakan puasa Senin dan Kamis banyak sekali. Berikut ini merupakan dalil keutamaan berpuasa Senin dan Kamis serta puasa sunnah lainnya. Rasulullah saw. bersabda:
Artinya: Artinya : “Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang namanya “Ar-Rayyan,” yang akan di masuki oleh orang-orang yang sering berpuasa kelak pada hari kiamat, tidak akan masuk dari pintu itu kecuali orang yang suka berpuasa. di katakan : manakah orang-orang yang suka berpuasa? maka mereka pun berdiri dan tidak masuk lewat pintu itu kecuali mereka, jika mereka telah masuk, maka pintu itu di tutup sehingga tidak seorang pun masuk melaluinya lagi.” (HR Bukhori dan Muslim)
Artinya: Artinya : “Dari ‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- : bahwa Nabi -sholallahu ‘alaihi wasallam- sering melakukan puasa senin dan kamis.” (HR Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan An-Nasai)
Maksud dari beberapa pintu surga dibuka pada dua hari tersebut; Senin dan Kamis, yaitu di saat inilah setiap orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan. Dalil yang menguatkan hal ini adalah hadits yang termaktub dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)
Dari aspek kejiwaan, sosial serta kesehatan, berpuasa memiliki beberapa manfaat, di antaranya:
Secara kejiwaan puasa membiasakan kesabaran, menguatkan kemauan, mengajari dan membantu bagaimana menguasai diri, serta mewujudkan dan membentuk ketaqwaan yang kuat di dalam diri. Inilah hikmah puasa yang paling utama. Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah: 183)



Monday, November 21, 2016

5 Sifat Orang Yang Beriman


Menyandang gelar orang beriman adalah predikat yang mulia. Allah mensifati sifat orang-orang yang beriman sekaligus dalam 2 ayat, yaitu ayat ke 2 dan ke 3 dari surah Al-Anfal. Allah menyebut ada 5 sifat di dalam ayat tersebut. Berikut adalah sifat-sifatnya.

Memiliki Rasa Takut di Dalam Hatinya

Allah Ta’ala berfirman
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka” (QS. Al-Anfal: 2)
Hanya orang yang beriman jika disebutkan nama Allah, muncul rasa takut dalam hatinya. Rasa takutnya sebagai bentuk mengagungkan Allah. Sebagai contoh, jika ada seseorang yang berkeinginan melakukan maksiat, kemudian ia teringat Allah atau ada yang mengingatkannya dengan mengatakan, “bertakwalah anda kepada Allah”, maka dia adalah seorang yang mukmin. Rasa takut tersebut adalah ciri-ciri orang yang beriman.

Adanya Tambahan Iman ketika Ayat Quran Dibacakan

Allah Ta’ala berfirman
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا
dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya)” (QS. Al-Anfal: 2)
Hal ini menjadi bukti keimanan seseorang  ketika Al Qur’an dibaca baik oleh dirinya ataupun orang lain, ia dapat mengambil manfaat dengan bertambahnya rasa iman. Sebagaimana RasulullahShallallahu ‘alaihi Wasallam pernah memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al Qur’an, lantas Ibnu Mas’ud bertanya, “Bagaimana aku membacakan Al Qur’an sedang Al Qur’an diturunkan untukmu?”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pun menjawab, “Sungguh aku senang mendengar bacaan Al Qur’an dari orang lain.” Ibnu Mas’ud pun membaca surah An-Nisa, tatkala sampai pada ayat 41,
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍۭ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ شَهِيدًا
Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)” (QS. An-Nisa: 41).
Maka Nabi mengatakan, “Cukup” Aku pun memandangi Nabi dan melihat mata beliau berlinangan air mata. (HR. Al-Bukhari)
Potongan ayat ke-2 surah Al-Anfal di atas menjadi dalil bahwa rasa iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Karena akidah ahlusunnah adalah iman itu bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat. Dicontohkan dalam ayat di atas adalah melakukan ketaatan dengan mendengarkan bacaan al quran. Adapun kelompok murji’ah yang memiliki penyimpangan dalam akidah ini, mengatakan bahwa rasa iman tidak dapat bertambah maupun berkurang, dan ini adalah akidah yang keliru.
Kisah Ibnu Mas’ud di atas juga menunjukkan betapa lembutnya hati Nabi, tatkala beliau dibacakan Al Qur’an, hati beliau terenyuh sehingga berlinanglah air mata beliau.

Tawakkal Hanya kepada Allah

Allah Ta’ala berfirman
وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal: 2).
Orang yang beriman akan menyandarkan segala urusannya hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain. Akan tetapi mereka juga melakukan sebab agar terwujudnya suatu hal, di samping tetap bertawakkal kepada Allah. Karena mereka yakin bahwa tidak akan terwujud suatu hal kecuali atas kehendak Allah.

Mendirikan Shalat

Allah Ta’ala berfirman
ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat” (QS. Al-Anfal: 3).
Banyak ayat yang menunjukkan shalat adalah bukti keimanan seseorang, salah satu dalam ayat ini. Orang yang beriman akan mendirikan shalat secara sempurna, baik shalat yang hukumnya wajib maupun yang dianjurkan.

Senang Berinfak

Allah Ta’ala berfirman
وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
dan yang menginfakkan rizki yang Kami berikan kepada mereka” (QS. Al-Anfal: 3).
Seorang dikatakan beriman ketika ia menginfakkan hartanya di jalan Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, beliau menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah. Namun ada catatan penting, ketika ada yang memiliki kebutuhan mendesak, baik dari keluarga maupun orang lain, maka tidak sepatutnya menginfakkan seluruh hartanya.
Demikianlah 5 sifat orang beriman yang Allah sebut dalam surah Al-Anfal ayat ke-2 dan ke-3. Kemudian di awal ayat ke 4 Allah sebut mereka itulah orang yang memiliki iman dengan sebenar benar iman. Allah mengatakan:
أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya” (QS. Al-Anfal: 4).
Semoga kita tergolong orang yang memiliki sifat-sifat di atas sehingga predikat orang yang beriman dapat kita raih. Wallahul muwaffiq.
***
Referensi: Al Qaulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, karya Syaikh Ibnu Utsaimin
Penulis: Wiwit Hardi P.
Artikel Muslim.Or.Id

Wednesday, November 9, 2016

Kisah Jenderal Gatot Nurmantyo Nekad Ikut Latihan Kopassus Di Usia 55 Tahun



Demi mewujudkan impian almarhumah Ibunya, Panglima TNI Gatot Nurmantyo *rela mengikuti dan menempuh latihan dasar Kopassus layaknya prajurit biasa.*
Gatot lahir di Tegal, Jawa Tengah, pada 13 Maret 1960. Tapi sejatinya ayahnya berasal dari Solo dan ibunya dari Cilacap. Gatot dibesarkan dari keluarga yang berlatar militer pejuang sangat kental. Ayah Gatot, bernama Suwantyo, seorang pejuang kemerdekaan yang pernah menjadi Tentara Pelajar. Di masa perang kemerdekaan ayahnya bertugas di bawah komando Jenderal Gatot Subroto. Dari nama tokoh militer kharismatik itulah, ayahnya kemudian memberi nama anaknya “Gatot”.
*Ayah Gatot pensiun dengan pangkat terakhir Letnal Kolonel Infanteri* dan tugas terakhir sebagai Kepala Kesehatan Jasmani di Kodam XIII/Merdeka, Sulawesi Utara. Sedangkan ibunda Gatot, anak seorang Kepala Pertamina di Cilacap, memiliki tiga orang kakak kandung yang mengabdi sebagai prajurit TNI AD, TNI-AL dan TNI-AU.
Karena anak tentara, sejak kecil Gatot hidup berpindah-pindah. Setelah dari Tegal, ia pindah ke.Cimahi, Jawa Barat, hingga kelas 1 Sekolah Dasar. Setelah itu ia pindah Cilacap sampai kelas 2 SMP. Lalu ia pindah ke Solo hingga tamat SMA.
*Sebenarnya Gatot ingin menjadi ARSITEK*. Makanya ia mendaftar ke Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi mengetahui anaknya mau masuk l UGM, ibundanya berpesan: “Ayahmu hanya seorang pensiunan. Kalau kamu masuk UGM, maka adik-adikmu bisa tidak sekolah.”
Mendengar hal tersebut, Gatot berubah haluan. Diam-diam dia berangkat ke Semarang, mendaftar Akabri melalui Kodam Diponegoro.
Sekembalinya dari Semarang, ia memberitahu ibunya bahwa ia sudah mendaftar ke Akabri. Ibunya langsung mengizinkan dengan pesan, “Jika kamu menjadi tentara, kamu harus menjadi anggota RPKAD.”
Menurut Gatot, ibunya terobsesi anaknya menjadi anggota RPKAD karena rumah orang tua ibunya dekat dengan markas RPKAD di Cilacap.
Setelah lulus Akabri 1982, Gatot berusaha masuk menjadi anggota Kopassus (nama baru RPKAD). Tapi dalam usaha pertama ia tidak diterima. Pada kesempatan berikutnya, setelah berpangkat Kapten, saat bertugas di Pusat Latihan Tempur di Baturaja, Sumsel, ia kembali mendaftar masuk Kopassus. Kembali tidak diterima.
Sebenarnya kesempatan tersebut sudah habis. Tapi Gatot tidak pernah menyerah. Ia terus berdoa kepada Allah SWT agar suatu hari bisa diterima menjadi prajurit Kopassus.
Kesempatan itu akhirnya datang setelah ia menjabat KSAD (25 Juli 2014–15 Juli 2015). Tak lama setelah pelantikan, Gatot memanggil Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo dan menyampaikan maksudnya ingin mendaftar pendidikan Kopassus. Tapi Agus Sutomo menyampaikan, “Tidak usah ikut pendidikan Pak, nanti Bapak saya kasih brevet kehormatan saja”.
Tapi Gatot menolak. Ia bersikukuh mau mendapat baret merah melalui jalur normal. Maka masuklah Gatot menjadi siswa Kopassus.
Ia mengikuti semua prosedur normal, mulai dari pendaftaran, ujian, hingga penyematan brevet komando dan baret di pantai Cilacap. Untuk itu, ia harus melalui ujian yang keras, antara lain senam jam 2 pagi, lalu direndam di kolam suci Kopassus di Batujajar. Kemudian longmarch, hingga berenang militer selama lebih 2 jam dari pantai Cilacap ke pulau Nusakambangan. Bahkan Gatot juga mengikuti pendidikan Sandi Yudha yang salah satu ujiannya harus menyusup masuk ke suatu tempat yang terkunci dan dikawal ketat oleh prajurit Kopassus. Ia lolos mulus.
Gatot akhirnya diyatakan lulus semua tahapan dan resmi diangkat menjadi keluarga besar Korps Baret Merah di pantai Permisan Cilacap, Jawa Tengah, pada 2 September 2014. Tidak seperti “brevet kehormatan” Kopassus yang disematkan di dada sebelah kiri penerimanya, brevet pasukan komando tersebut disematkan di dada sebelah kanan Gatot, sebagai tanda ia menerimanya melalui prosedur selayaknya yang harus dilalui setiap prajurit Kopassus.
Setelah resmi menjadi prajurit Kopassus, Gatot naik helikopter dari Cilacap ke Kartosuro (Markas Grup 2 Kopassus). Masih berbaret merah, pakai loreng, darah mengalir, masih pakai hitam-hitam samaran dan masih bau lumpur, ia langsung menuju makam kedua orang tuanya di Solo.
Di depan makam kedua orang tuanya itu ia memberi hormat dan menyampaikan, ”Ibu saya sudah menunaikan tugas.” Dan itu terjadi saat Gatot berusia 55 tahun.

sumber : Majalah FORUM KEADILAN Edisi 08

Monday, November 7, 2016

SUNGGUH ALLAH AKAN MENGHINAKAN MUSUH AL-QUR"AN


Siapapun yang membela Al Qur'an, Allah akan mengangkat derajatnya. Sebaliknya siapapun yang merendahkannya, Allah akan meruntuhkan martabatnya.


Nabi –shollallohu alaihi wasallam– telah bersabda:
إنَّ اللهَ لَيرفَعُ بهذا القُرآنِ أقوامًا ويضَعُ به آخَرينَ
Sungguh dengan sebab Kitab (Al Qur’an) ini, Allah akan mengangkat sekelompok kaum, dan dengannya pula Dia akan merendahkan sekelompok kaum yg lain” (HR. Muslim: 817).
Siapapun yang membela Al Qur’an, Allah akan mengangkat derajatnya. Sebaliknya siapapun yang merendahkannya, Allah akan meruntuhkan martabatnya.
Karena Al Qur’an adalah kalamullah; firman Allah yang Dia jamin penjagaannya dan kemurniannya. Maka merendahkannya berarti merendahkan Allah ta’ala. Sungguh Dia tidak akan rela dengan siapapun yang merendahkannya. Ingatlah, disamping Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Allah juga Maha Kuat Perkasa, serta Maha Pedih Siksa dan Hukuman-Nya.
Kaum Muslimin, jadilah pasukan-pasukan pembela Al Qur’an, sehingga Allah memuliakan kalian. Dan jangan sampai kalian merendahkan Al Qur’an atau membela orang-orang yang merendahkannya, sehingga Allah meruntuhkan martabat kalian.
Jangan sampai Anda menjadi pelajaran bagi orang lain. Tapi, cerdaslah, dan ambillah pelajaran dari orang lain.
Lihatlah orang-orang yang hari ini mencari ketenaran dan kedudukan dengan jalan merendahkan Al Qur’an atau membela orang yg merendahkan Al Qur’an, nantinya Allah pasti akan menghinakannya.
Allah azza wajalla telah berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Harusnya orang-orang yang menyelisihi perintah RasulNya, takut akan mendapatkan cobaan atau azab yg pedih” (QS. Annur: 63).

Penulis: Ust. Musyaffa Ad Darini, MA.

Saturday, November 5, 2016

AL QUR-AN SEBAGAI PEDOMAN HIDUP


Kaum muslimin meyakini Al Qur’an adalah pedoman hidup bagi mereka. Bahkan, keimanan terhadap Al Kitab adalah salah satu rukun iman yang enam. Bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib untuk mengimani Al Qur-an, dengan meyakini bahwa kitab suci Al Qur’an turun di sisi Allah.
Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dengan ayat-ayat yang ada di dalamnya,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al Hijr: 9) membenarkan seluruh kabar yang datang dalam Al Qur-an, karena firman Allah subhanahu wa ta’ala seluruhnya jujur dan benar adanya.
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ ۗ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا
“Allah, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kalian di hari kiamat yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An Nisa: 87) 
Dan juga dalam ayat lain,
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ  وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا
“Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh kelak akan kami masukkan ke dalam Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An Nisa: 122)
Al Qur’an diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk tiga perkara:
1. Beribadah dengan membacanya. Siapa saja yang membaca huruf-huruf yang ada dalam Al Qur’an mendapat satu kebaikan. Kemudian, dari satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa saja yang membaca satu huruf dalam Al Qur’an ia mendapatkan satu kebaikan dan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali kebaikan. Aku tidak mengatakan alif laam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
Karena itu, bagi siapa yang membacanya, mendapat kebaikan yang banyak. Orang-orang yang mahir atau fasih dalam membaca ayat-ayat Allah akan mendapatkan keutamaan yang tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha,
“Orang yang membaca Al Qur’an dan ia mahir membacanya bersama para malaikat Allah yang mulia dan orang yang membacanya dengan terbata-bata ia berat membacanya mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
2. Merenungi maknanya, memahami dan mendalami kandungan ayat Al Qur’an. Dengan merenunginya, seseorang dapat mengambil manfaat dari Al Qur’an. Sebagaimana dalam firmanNya,
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah Kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)
Bukanlah yang diinginkan dari Al Qur-an membaca saja. Akan tetapi, sepantasnya bagi kita untuk mendalami kandungan makna yang ada di dalam Al Qur-an, sehingga dapat mengamalkan bimbingan yang ada padanya. Sebab tidaklah seseorang bisa mengamalkan Al Qur’an kecuali dengan memahami kandungannya. Sungguh, seorang akan mendapatkan kesenangan dan kesejukan hati di dalam membaca Al Qur’an bersamaan ia mendalami makna ayat-ayatnya.
3. Mengambil nasehat dan wejangan dari ayat-ayat Al Qur-an seakan Al Qur-an sebagai penasehat baginya, mengingatkannya kepada Allah. Hal ini sebagaimana firmannya,
 يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57)
Al Qur’an merupakan obat bagi hati yang berada dalam kegelisahan, gundah gulana. Dengan membacanya, akan mendapatkan ketenteraman, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan kami turunkan dari Al Qur-an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur-an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra: 82)
Betapa banyak keutamaan Al Qur’an bagi kita, kaum muslimin. Selain Al Qur-an adalah mukzijat yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara keutamaannya adalah sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya. Dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallambersabda, “Bacalah oleh kalian Al Qur’an. Sesungguhnya pada hari kiamat Al Qur-an akan datang sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim) 
Pada hari tidak ada yang dapat menyelamatkan diri seorang hamba kecuali amalannya sendiri, maka Al Qur-an datang sebagai pemberi syafaat, apabila kita membacanya hanya mengharap pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah mengangkat kedudukan suatu kaum dengan berpegangnya mereka terhadap Al Quran dan merendahkan suatu kaum dengannya pula. Setan lari dari rumah yang dibacakan padanya ayat-ayat Al Qur-an terkhusus surat Al Baqarah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan rumah kalian kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al Baqarah.” (HR. Muslim)
Rujukan: Buletin Jum’at DAKWAH ISLAM, No. 23, Tahun ke-1, 9 Ramadhan 1436 H/26 Juni 2015 M