Social Networks

Random Posts

Recent Posts

Recent in Sports

Recent comments

About me

Follow by Email

Sponsor

Most Popular

Wednesday, May 25, 2016

Subhanalloh Pernah Jadi Santri GRQ Polisi ini Senantiasa Menjaga Hafalannya - ( Kisah Penghafal Quran )



Hape yang tertinggal di meja komputer asrama itu memberi tahu,bahwa malam itu (malam Sabtu lalu) dia telah menelpon dua kali.Namun karena saya baru pulang sekitar jam 23.30 an,maka saya lebih memilih untuk segera tidur.Sekaligus mengazamkan bahwa esok pagi saya harus menelponnya.Tampak ada yang sangat penting yang ingin dia sampaikan.

Dan pagi itu saya kembali mendengar suaranya,remaja unik yang dulu pernah belajar di Pondok Tahfizh Generasi Rabbani Qurani.Betapapun selama ini kami telah mengenalnya sebagai santri yang rajin,tapi pertanyaannya pagi itu benar-benar membuat saya tertegun.Dia bertanya : Apakah saya memiliki kenalan seorang hafizh di Kuningan,yang dengannya dia bisa menyetorkan hafalan Qur’an?”.Maa syaa Allah.Ternyata kesibukannya sebagai polisi muda yang sedang bertugas di Polres Kuningan tidak membuatnya lalai dari menghafal Qur’an!

Izinkan kami mengenalkannya kepada anda.Andri namanya.Lika-liku kehidupannya cukup unik.Dia pernah manjadi mahasiswa Ikopin Jatinangor.Kemudian menjadi salah satu santri Pondok Tahfizh GRQ Bandung.Lalu menjadi petugas masjid Rumah Sakit Al-Islam Bandung,dan sekarang menjadi Polisi yang bertugas di Polres kabupaten Kuningan Jawa Barat.

Saya sendiri sudah lupa berapa lama dulu dia belajar bersama kami di pesantren GRQ .Saya juga lupa berapa juz yang dulu sudah dia setorkan.Tidak lama dan tidak banyak memang.Namun kunjungan saya ke rumahnya ketika itu juga sukar untuk di lupa.Malam itu saya dan seorang santri (Fujiansyah) menyengaja datang ke rumahnya di daerah Tanjung Sari,Sumedang.Selain dalam rangka jalan-jalan,saya juga ingin membujuknya untuk kembali ke pesantren.Kisahnya waktu itu dia sudah memutuskan untuk keluar dari pesantren,dengan alasan ingin membantu orang tua.Memang akhirnya usaha saya untuk membawa dia kembali ke pesantren gagal.Namun dari kunjungan itu saya semakin sadar bahwa dia pemuda yang istimewa.

Malam itu kami diajak bermalam di masjid (atau musholla) kecil dekat rumahnya.Dia bercerita bahwa kondisi masjid itu masih memprihatinkan.Dia juga bercerita bahwa setiap malam dia rajin tidur di masjid tersebut meskipun sendirian.Selain mengurus neneknya yang lumpuh.Hari-harinya juga diisi dengan mengajar anak-anak di lingkungan masjid.Yang membuat saya kagum,kegiatan-kegiatan yang selama ini dia laksanakan di pesantren ternyata masih dia kerjakan.Seperti menambah hafalan,Tahajjud 1 juz,Dhuha 1 juz,tilawah 1 juz,murojaah 1 juz,bahkan murojaah tsunaiyyah (berpasangan) juga masih rutin dia laksanankan.Ketika saya bertanya dengan siapa dia melaksanakan murojaah tsunaiyyah tersebut,dia menjawab : dengan murid-murid binaannya.Bahkan,semua kegiatan itu juga dia tulis di buku rapot (mutaba’ah) harian yang dia bawa dari pesantren.

Kemudian setelah lama kami tidak mendengar kabarnya,tiba-tiba kami mendapat informasi bahwa dia di terima menjadi anggota polisi.Sungguh kami seperti tidak percaya awalnya.Namun,foto yang terlihat di Facebook ketika itu cukup menjadi bukti.Walaupun pada akhirnya kami tidak bisa mendapatkan informasi lebih lanjut.Karena dia harus mengikuti pendidikan kepolisian di Sidoarjo selama beberapa bulan.

Hingga dia telah menyelesaikan semua proses itu lalu dia mendapatkan tugas pertamanya di Polda Jawa Barat.Pada masa-masa itu lah dia berkunjung ke pesantren dan rajin mengikuti kegiatan mabit pesantren setiap malam Ahad.Sampai akhirnya dia mendapat tugas di Polres Kuningan.
Pada momen mabit itu lah saya pertama kali bertemu dengannya setelah statusnya sebagai polisi.Tentu saja,kesempatan itu saya gunakan dengan baik untuk mendengar dia bercerita.Singkatnya,dia sendiri tidak mengira dan tidak punya cita-cita menjadi polisi.Bahkan awalnya dia tidak percaya kalau dia bisa lolos,karena jelas dia tidak mampu menyogok.Prinsipnya ketika itu adalah ; “Saya hanya mengandalkan Allah saja”.Benar.Hari itu pun saya melihat bahwa remaja ini tidak banyak berubah dan masih seperti dulu.Masih santun,rendah hati,gemar beribadah dan sederhana.

Rasanya jari-jari ini masih ingin menulis cerita tentang teman dan guru kami ini.Tapi yang paling penting dari itu semua adalah kita bisa mengambil pelajaran.Bahwa siapapun bisa merasakan nikmatnya menghafal Qur’an.Andri bahkan membuat saya kembali menahan malu,karena meskipun tidak ada yang memanggilnya ustadz atau al-Hafizh.Namun kecintaannya kepada Al-Qur’an sungguh harus menjadi teladan.Namun bukankah memang harus demikian,karena menghafal Qur’an adalah cara kita agar lebih dekat dengan Al-Qur’an. Agar mencintai dan dicintai al-Qur’an.

Bahkan seorang William Ewart Gladstone pun memahami bahwa cinta ini sangat berharga.Hingga mantan perdana mentri Inggris ini pun pernah berkata secara terang-terangan kepada media : “Selama kaum muslimin memiliki al-Qur’an, kita tidak bisa menundukkan mereka, kita harus mengambilnya dari mereka, menjauhkan mereka dari Al-Qur’an, atau membuat mereka kehilangan rasa cinta kepada AlQur’an”.

‘’Orang-orang kafir berkata ; Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur’an dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kalian mampu mengalahkan mereka’’ (QS : Fusshilat 26) . ref " Musyrif GRQ "

0 comments:

Post a Comment