Social Networks

Random Posts

Recent Posts

Recent in Sports

Recent comments

About me

Follow by Email

Sponsor

Most Popular

Sunday, March 1, 2015

Sudah Berkeluarga Tapi Bisa Menghafal Alquran 30 Juz. Kenapa Tidak?




Alasan yang sering dipakai seseorang untuk tidak menghafal Alquran (sampai selesai) adalah karena dia sudah berkeluarga.Kesibukan dan amanah yang bertambah tak pelak menjadi pertimbangan untuk tidak meneruskan hafalan.Bahkan tidak menghafal sama sekali.


Namun alasan ini sama sekali tidak berlaku buat Muhammad Baden Nur Jaman.Santri dari Bogor yang pada hari Rabu (11-2-2015) kemarin berhasil menyelesaikan hafalan Alquran nya di pesantren GRQ (Generasi Robbani Qurani) Bandung.Dengan disaksikan asatidz,para santri dan jamaah masjid An-nur villa Bandung indah,Akh Baden menyetorkan hafalan terakhirnya,sepuluh halaman akhir juz 24 (1/2 juz).



Padahal Akh Baden adalah santri yang sudah punya istri.Bahkan pengantin baru.Ketika awal masuk di pesantren dia masih berstatus singel seperti santri yang lain.Walaupun dari segi usia dia memang paling tua,25 tahun.Nah,setelah berjalan tiga bulan ternyata akh Baden pengen nikah.Waktu itu dia sudah medapat 15 juz.Keputusan menikah ini sebenarnya sangat mengagetkan sekaligus mengecewakan pihak pesantren.



Namun menjadi pengantin baru ternyata tidak membuat akh Baden lupa dengan Alqurannya.Setelah dua bulanan menikah ternyata keinginan untuk menyelesaikan hafalan masih kuat.Akhirnya,dengan motivasi sang istri yang juga mahasiswi UIN Jakarta,akh Baden punya semangat kembali untuk menyelasaikan hafalan.Targetnya pun fantastis,sisa 15 juz mau dia selesaikan selama satu bulan.Alhamdulillah dengan izin Allah target itu tercapai.Setiap harinya (kecuali hari libur) akh Baden menyetorkan setengah juz dengan lancar.Tidak hanya itu,program-program murojaah dari pesantren berupa tahajud 1 juz,dhuha 1 juz dan tilawah 1 juz juga dilaksanakan dengan baik.Bahkan karena dia adalah alumni Lipia (i’dad),ia juga diminta untuk mengajar bahasa arab.



Dalam sambutannya,akh Baden bercerita bahwa keinginan untuk menjadi hafizh quran muncul setelah ibunya meninggal.Sebagai anak,akh Baden tidak hanya terpukul karena kepergian ibunya,tapi juga sangat menyesal karena merasa belum bisa membahagiakannya.Dari situlah azam untuk menjadi hafizh quran muncul.Dalam keyakinannya,masih ada kesempatan untuk membahagiakan ibunya yang telah tiada.Dengan menjadi seorang hafizh quran,ia berharap bisa memakaikan mahkota kemuliaan untuk ibunya di akhirat kelak.



Di pesantren GRQ,akh Baden adalah alumni kedua yang menyelesaikan hafalannya dengan status sudah berkeluarga.Beberapa bulan sebelumnya,seorang santri yang sudah memiliki dua anak juga berhasil menyelesaikan hafalannya di pesantren GRQ.Jadi agar santri tersebut bisa menjadi hafizh quran,dia rela meninggalkan istri dan dua anaknya yang masih kecil.

0 comments:

Post a Comment