November 2014 - GRQ TAHFIZH
GRQ UPDATE
JAM BUKA SEKRETARIAT( 08.00 s/d 16.00 WIB)

Yuk Follow

Thursday, November 27, 2014

Amin, Satu Kata untuk Pelebur Dosa

Amin, Satu Kata untuk Pelebur Dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه
Jika seorang imam mengucapkan ‘amin’ maka ucapkanlah pula ‘amin’ karena ungkapan amin seseorang yang bersesuaian dengan ungkapan amin para malaikat akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhariy dan Muslim.
FAWA’ID AL-HADITS:
Faidah Pertama: Apa yang dimaksud dengan ungkapan amin?
Ungkapan amin bermakna ‘Allahumma istajib’ (Ya Allah, kabulkanlah).
Faidah Kedua: Apa hikmah mengucapkan amin setelah imam selesai membaca alfatihah?
Secara umum, dalam setiap kebaikan yang diperintahkan oleh Islam mengandung begitu banyak hikmah dan kebaikan untuk manusia itu sendiri. Ini sesuai dengan salah satu kaidah agung yang ditetapkan Islam:
الدين جاء لسعادة البشر
Islam terbit untuk kebahagiaan manusia”
Dalam hadits ini terdapat sebuah pelajaran yang mulia nan agung yaitu pensyariatan ungkapan amin dan keutamaan yang diperoleh bagi orang yang mengucapkannya.
Surat al-Fatihah mengandung do’a teragung, termulia dan terbaik seperti yang diungkpakan para ulama dalam kitab mereka. Secara umum, dalam kitab-kitab yang mensyarah hadits ini, diungkapkan bahwa pensyariatan amin dikaitkan dengan doa yang termaktub dalam al-Fatihah.
Faidah Ketiga: Kapan amin diucapkan?
Para ulama menjelaskan bahwa amin diucapkan beberapa saat setelah imam selesai membaca surat al-Fatihah.
Faidah Keempat: Apakah ma’mum mengucapkan amin mendahului imam atau setelah ungkapan amin sang imam?
Dari hadits tersebut nampak bahwa amin sang imam lebih dahulu dibanding amin ma’mum namun jumhur ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “ammana al-imam (أمن الإمام)” adalah saat sang imam akan memulai ungkapan amin. Saat inilah ma’mum bersegera mengucapkan amin sehingga ungkapan imam dan ma’mu menyatu dalam satu waktu.
Faidah Kelima: Bolehkan ma’mum mendahului amin imam?
Tidak boleh bagi makmum mendahului unngkapan amin sang imam atau mengakhirkannya agar mendapat keutamaan besar yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini.
Faidah Keenam: Apakah yang terhapus adalah semua jenis dosa?
Secara umum, dalam ilmu Ushul Fiqh, lafadz “maa (ما)” adalah “ism maushul” yang bermakna umum. Artinya, berdasarkan redaksi di atas, dosa yang disebutkan mengandung dosa kecil dan besar. Namun, para ulama yang meneliti nash mengungkapkan bahwa pengguguran dosa yang dimaksud dalam hadits di atas dan hadits lain yang sejenisnya berhubungan dengan dosa kecil saja.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy mengungkapkan bahwa semua nash yang mengandung pengampunan dosa ditujukan terhadap dosa kecil, bukan dosa besar. Dosa besar gugur dengan taubat yang dilakukan seorang hamba.
Faidah Ketujuh: apa yang dimaksud dengan “muwaafaqah (موافقة)/berkesesuaian”?
Para ulama berbeda pendapat tentang makna “muwaafaqah (موافقة)/berkesesuaian.”
  1. Kesamaan waktu. Artinya, amin ma’mum dan amin para malaikat bersamaan di waktu yang sama. Kebersamaan do’a dan berpadunya waktu adalah salah satu factor diterimanya doa apalagi doa tersebut bersesuaian dengan doa para malaikat yang memang tidak bermaksiat kepada Allah, melakukan apa yang Allah perintahkan, bershaf-shaf di sisi Allah, bertasbih dan bersujud kepada Allah ‘azza wajalla.
  1. Kesamaan ma’mum dengan sifat dan keadaan malaikat yaitu memandang kerendahan diri saat berdoa, menundukkan hati dan khusyu’ karena Allah tidak menerima doa dari hati dan jiwa yang lalai.
Faidah kedelapan: Siapa malaikat yang disebutkan dalm hadits di atas?
Para ulama menjelaskan bahwa para malaikut pun mendengar bacaan imam. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang malaikat mana saja yang dimaksudkan dalam hadits di atas.
Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah al-Bassam mengungkapkan bahwa malaikat yang dimaksud adalah malaikat yang ikut menyaksikan shalat tersebut baik malaikat yang ada di bumi maupun malaikat yang ada di langit.
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengungkapkan bahwa malaikat yang dimaksudkan hanyalah malaikat yang diijinkan Allah untuk mengucapkan amin bersama orang yang shalat. Dan ini tidak berlaku bagi malaikat yang tidak diijinkan Allah.
Penutup:
Ada banyak sekali permasalahan fiqhiyyah yang berkaitan dengan hadits di atas, misalnya status hukum ucapan amin dalam shalat, apakah imam wajib membaca amin baik dengan mengeraskan hingga terdengar makmum atau dengan suara pelan, ataukah sebatas sunnah baginya, dan permasalahan lain.
Hanya saja, alangkah baiknya bagi imam dan makmum, dan ini begitu disarankan para ulama, untuk membaca amin dalam waktu yang sama dengan suara yang terdengar sehingga mereka mendapat keutamaan penghapusan dosa. Begitu pula ketika membaca amin diharapkan dengan hati yang khsuyu’ penuh ketundukan sehingga menyerupai keadaan para mailaikat.
Sungguh, kita dapati sebagian saudara kita begitu lalai membaca amin dalam shalat padahal para ulama mengungkapkan bahwa kesempatan membaca amin dalam shalat ini dengan ungkapan:
هذه غنيمة جليلة وفرصة ثمينة ألا وهي غفران الذنوب بأيسر الأسباب فلا يفوتها إلا محروم
Ini adalah harta/kemenangan (peraihan sesuatu tanpa ada kesulitan sedikit pun –ed) yang mulia dan kesempatan yang begitu berharga yaitu pengampunan dosa dengan wasilah yang paling mudah. Orang yang terluput dari kesempatan ini hanyalah orang-orang yang memang diharamkan untuk meraihnya ”
Referensi:
  1. Ta’liqat ‘ala ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy, Dar a’Atsar, Mesir.
  2. Mandzumah Ushul al-Fiqh wa Qawa’iduhu, karya Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Dar Ibn Jauziy, Saudi Arabia
  3. Taisiyr al-‘Allam Syarh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Dar al-Aqidah, Mesir.
  4. Syarh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Sa’ad bin Nashir as-Syatstriy, Dar Kanuz Isybilya, Arab Saudi
  5. Tanbih al-Afham Syarh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Maktabah as-Shabah, Mesir.
  6. Zubdah al-Afham bi Fawa-idh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Abu ‘Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilaliy, Dar Ibn Hazm, Libanon.
Read More
Surat Makiyyah dan Madaniyyah

Surat Makiyyah dan Madaniyyah



Surat Makiyyah dan Madaniyyah

          Al Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Sebagian besar ayat Al Qur’an tersebut diturunkan di kota Mekah. Para ulama membedakan surat dalam Al Qur’an menjadi dua yaitu: Makiyyah dan Madaniyyah.
Makiyyah adalah surat/ ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke kota Madinah. Adapun Madaniyyah adalah surat/ ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau hijrah ke kota Madinah.
Perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyyah dari segi gaya bahasa

1. Ayat-ayat Makiyyah umumnya memiliki uslub (gaya bahasa) yang kuat, kalimatnya keras. Hal ini karena kebanyakan masyarakat ketika itu adalah orang-orang yang suka menentang Islam dan orang-orang yang sombong. Sebagai contoh surat Makiyyah adalah surat Al Mudatstsir dan Al Qomar.
Adapun ayat-ayat Madaniyyah umumnya memiliki gaya bahasa yang lembut, mudah dicerna kalimatnya. Hal ini karena kebanyakan masyarakat ketika itu adalah orang-orang yang menerima dan orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Islam. Sebagai contoh adalah surat Al Maidah.

2. Surat Makiyyah umumnya memiliki ayat-ayat yang pendek dan pendalilannya kuat. Hal ini karena masyarakat yang diajak bicara umumnya adalah orang-orang yang suka menentang dan susah menerima dakwah Islam. Oleh karena itu mereka didakwahi sesuai dengan keadaan mereka, sebagai contoh adalah surat Ath-Thuur.

Adapun surat Madaniyyah umumnya memiliki ayat-ayat yang panjang dan membicarakan mengenai hukum. Sebagai contoh adalah surat Al Baqarah.

Perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyyah dari segi tema
1. Surat-surat Makiyyah umumnya berisi tentang Tauhid dan bagaimana aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyyah dan Iman terhadap hari akhir karena kebanyakan masyarakat pada saat itu adalah orang-orang yang mengingkarinya.
Adapun surat Madaniyyah umumnya berisi tentang perincian-perincian ibadah dan muamalah. Hal ini karena obyek dakwah ketika itu adalah orang-orang yang Tauhid dan aqidahnya telah kuat terpatri dalam jiwa mereka.

2. Adanya penjelasan tentang jihad dan hukum-hukumnya, adanya penjelasan mengenai orang-orang munafik dan keadaan mereka dalam ayat-ayat Madaniyyah karena sesuai dengan keadaan saat itu, di mana ketika itu mulai diwajibkannya jihad dan mulai muncul kemunafikan yang perkara ini belum muncul ketika periode Mekah.

Faidah memahami perbedaan surat Makiyyah dan Madaniyyah
Memahami perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyyah merupakan perkara yang sangat penting karena di dalamnya terdapat faidah yang banyak, di antaranya adalah:
1. Mengetahui keindahan gaya bahasa Al Qur’an yang memilki tingkatan paling tinggi, karena bahasa Al Qur’an disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menjadi obyek dakwah ketika itu, terkadang bahasanya keras dan tegas dan terkadang bahasanya lembut dan mudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang menjadi obyek dakwah.

2. Mengetahui hikmah diturunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur sesuai dengan perkara yang paling penting yang dibutuhkan masyarakat ketika itu sehingga mereka lebih mudah untuk menerima dan mengambil faidahnya.

3. Mengajarkan para da’i yang berdakwah di jalan Allah dan mengarahkan mereka untuk mengikuti metode Al Qur’an dalam hal gaya bahasa dan tema disesuaikan dengan sasaran dakwah. Dengan cara memulai dari yang paling penting kemudian yang lebih penting. Menggunakan bahasa yang tegas maupun lembut disesuaikan pada tempatnya.

4. Membedakan antara ayat yang Nasikh (yang menghapus) dengan Mansukh (yang dihapus hukumnya) sekiranya terdapat dua ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang terlihat bertentangan dan tercapai di antara keduanya syarat-syarat Naskh (penghapusan). Jika syarat Naskh terpenuhi maka ayat Madaniyyah akan membatasi hukum ayat Makiyyah karena ayat Madaniyyah turun lebih akhir dibanding ayat Makiyyah.
Diringkas dari kitab “Ushul fit-tafsiir” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin cetakan Daar Ibnul Jauzi
Read More
Syeikh As-Sudais : Pegang Teguh Nilai Al-Qur’an Jika Ingin Bahagia

Syeikh As-Sudais : Pegang Teguh Nilai Al-Qur’an Jika Ingin Bahagia




Syeikh As-Sudais : Pegang Teguh Nilai Al-Qur’an Jika Ingin Bahagia

Berita dari PPPA Pusat Jakarta

 
Imam Masjidil Haram Syeikh Abdurrahman bin Abdul Azis As-Sudais berpesan agar umat Islam memegang teguh ajaran Al-Qur'an jika ingin selamat dan mendapat keberkahan di dunia dan akhirat.

"Umat Islam wajib berakhlak dengan akhlak Al-Qur'an, mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi. Gunakan nilai-nilai Al-Qur'an dirumah, di lingkungan juga pada urusan politik" ujar Syeikh Sudais kepada wartawan di kantor Atase Agama Kerajaan Arab Saudi, Kamis (30/10).

Hadir dalam pertemuan tersebut Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Mustafa Ibrahim Al Mubarak dan pengasuh Pondok Pesantrean Tahfidz Daarul Qur'an Ustadz Yusuf Mansur.

Dalam kesempatan tersebut Syeikh Sudais juga meminta umat Islam untuk menjaga Al-Qur'an dengan cara membaca, menghafal dan mengamalkannya.

"Al-Qur'an harus sering dibaca selayaknya koran dirumah kita, lalu setelah itu dihafal dan diamalkan" ujarnya.

Syeikh Sudais juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan organisasi Islam di Indonesia atas bantuan dan peran serta dalam menyebarkan dakwah Al-Qur'an.

Sementara itu Ustadz Yusuf Mansur mengatakan kedatangan Imam Besar Masjidil Haram tersebut menjadi motivasi bagi Daarul Qur'an untuk lebih semangat lagi dalam mendakwahkan Al-Qur'an di Indonesia.

"Kami akan mengajak masyarakat untuk bersama-sama terlibat dalam dakwah Al-Qur'an di Indonesia. Insya Allah, sebagaimana yang disampaikan oleh Syeikh tadi jumlah penghafal Al-Qur'an di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya" ujar pengasuh Pomps Tahfidz Daarul Qur'an tersebut.
Read More

Monday, November 24, 2014

Friday, November 21, 2014

TARGET HAFIZH DALAM 6 BULAN ( Cerita Si anak kalimantan )

TARGET HAFIZH DALAM 6 BULAN ( Cerita Si anak kalimantan )

           
               Cerita menarik tersaji di pondok tahfizh GRQ ( generasi rabbani qurani ), cerita ini datang dari sosok pemuda penghafal al-qur’an beliau memiliki latar belakang keturunan luar jawa tepatnya kalimantan, berawal dari  tekad dan niat yang begitu menggebu-gebu beliau mengajukan diri untuk menuntut ilmu di tanah jawa  sebagai penghafal al-qur’an. Berbagai informasi ia cari tentang adanya pesantren tahfizh yang benar-benar berkualitas dan tentunya gratis, ia cari baik lewat media ataupun kerabat terdekat. Dan akhirnya dari berbagai informasi tersebut ia temukan pondok yang pas untuk meraih cita-cita dan harapannya, dukungan dan dorongan orang tua menjadi tambahan semangat dan motivasi yang tinggi untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya, tak mau lama ia pun kemudian berangkat dari kampung halamannya menuju kota santri di jawa barat tersebut,  dan hinggaplah ia berada di salah satu pondok tahfizh yang berada di jawa barat, pondok tahfizh generasi rabbani qurani atau sering di singkat dengan dengan (GRQ) sebagai labuhannya, adapun lokasi tempatnya berada di cileunyi kulon yang beralamat di KOMPLEK VILLA BANDUNG INDAH.
               Siapa nama dari sosok orang kalimantan ini ?,  NURWAHID ALFAN adalah nama yang diberikan kedua orang tuanya, dengan penuh pengharapan nama tersebut mudah-mudahan menjadi nama yang baik menurut allah, beliau lahir pda tanggal 03-11-1999 putra ke 3 yang dilahirkan seorang ibu yang alim dan shalehah yang bernama AMOYATI dan bapak-nya MASELUKI. Beliau memiliki cita-cita menjadi guru besar  yang tentu dapat bermanfaat bagi semua orang, untuk menggapai cita-cita tersebut ia mulai dengan langkah awal sebagai hafizh qur’an dengan target 6 bulan. Beliau menceritakan motivasinya masuk lembaga tahfizh ini kepada penulis “ terlihat zaman yang kian merosot kejaman kenistaan dimana orang hanya selalu mementingkan pekerjaan duniawi dan al-qur’an sebagai bacaan yang tidak layak lagi untuk dibaca bahkan hanya menjadi pajangan belaka, dan saya ingin mengubah kebiasaan ini “ tuturnya.
               Singkat cerita, dengan kunci mujahadah yang istiqamah beliau hingga saat ini sudah menghafal 14 juz 11 halaman dalam kurun waktu 2 bln setengah, menurutnya “ tidaklah mudah untuk bisa sampai 14 juz 11 halaman, perlu adanya kerja keras dan mujahadah yang betul-betul istiqamah dalam diri kita, dikalala orang lain tidur ia sempatkan untuk terus menghafal hingga targetnya tercapai”  sebuah pencapaian yang baik dan sesuai dengan apa yang di planingkan sebelumnya, maka akan pantas jika ia dalam 6 bulan ini dapat menyelesaikan hafalnnya dan menjadi hafizh itu semua terlihat dalam waktu kurang dari 3 bulan ini ia selesaikan 15 juz kurang.  
               Adapun metode yang yang ia pakai dalam menghafal al-qur’an adalah “ menghafal per-ayat”, agar tercapai targetnya beliau selalu melakukan amal shaleh yakni dengan berpuasa sunah dan puasa nadzar, dengan pengharapan allah memberikan kemudahan, kelancaran dalam menghafalnya.
               Sebuah kata mutiara ia sampaikan kepada penulis “ Don’t think to be the best, but think to do the best ” dan sebuah pesan “ lakukanlah sesuatu selagi engkau mampu dan bertakwalah kepada allah.”   
               Harapan penulis mudah-mudahan apa yang di cita-citakan oleh beliau dapat tercapai dan terealisasikan dengan baik. Amin..
Read More

Thursday, November 20, 2014

Dan Umar Pun Menangis

Dan Umar Pun Menangis

            Siapa yang tak mengenal Umar Ibnul Khathab -radhiallahu’anhu-. Sosok yang memiliki tubuh kekar, watak yang keras dan berdisiplin yang tinggi serta tak kenal gentar. Namun di balik sifat tegasnya tersebut beliau memiliki hati yang lembut.
Suatu hari beliau masuk menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- di dalam rumahnya, sebuah ruangan yang lebih layak disebut bilik kecil disisi masjid Nabawi. Di dalam bilik sederhana itu, beliau mendapati Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- sedang tidur di atas tikar kasar hingga gurat-gurat tikar itu membekas di badan beliau.
           Spontan keadaan ini membuat Umar menitikkan air mata karena merasa iba dengan kondisi Rasulullah.
Mengapa engkau menangis, ya Umar?” tanya Rasulullah.
Bagaimana saya tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas,” sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, ya Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih-Nya,” jawab Umar.

     Rasulullah kemudian menghibur Umar, beliau bersabda: “Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang juga, dan tak lama lagi akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…? “.
Beliau shallallahu alaihi wasallam melanjutkan lagi, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya“.
Begitulah sahabat…

          Tangisan Umar adalah tangisan yang lahir dari keimanan yang dilandasi tulusnya cinta kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-. Apa yang dilihatnya membuat sisi kemanusiaannya terhentak dan mengalirkan perasaan gundah yang manusiawi. Reaksi yang seolah memberi arti bahwa semestinya orang-orang kafir yang dengan segala daya dan upaya berusaha menghalangi kebenaran, memadamkam cahaya iman, dan menyebarkan keculasan dan keburukan, mereka itulah yang semestinya tak menikmati karunia Allah. Sebaliknya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islamlah semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak, begitu fikir Umar.

          Tangisan Umar juga memberi arti lain, bahwa betapa tidak mudah bagi sisi-sisi manusiawi setiap orang bahkan bagi Umar sekalipun, untuk menerima ganjilnya “pemihakan” dunia kepada orang-orang bejat. Namun sekejap gundah dan tangisnya berubah menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman sesudahnya. Yaitu apabila kita mengukur hidup ini dengan timbangan duniawi, maka terlalu banyak kenyataan hidup yang dapat menyesakkan dada kita.

         Lihatlah bagaimana orang-orang yang benar justru diinjak dan dihinakan. Sebaliknya, para penjahat dan manusia-manusia bejat dipuja dengan segala simbol penghargaan. Tak perlu heran, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan akan masa-masa sulit itu. Masa dimana orang-orang benar didustakan dan orang-orang dusta dibenarkan.
        Tangis Umar juga mengajari kita bahwa dalam menyikapi gemerlapnya dunia, kita tidak boleh hanya menggunakan sisi-sisi manusiawi semata, dibutuhkan mata hati bukan sekedar mata kepala. Dibutuhkan ketajaman iman, dan bukan semata kalkulasi duniawi.
Dan semua itu tercermin dalam jawaban Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- kepada Umar. Beliau memberi gambaran yang membuat sesuatu yang secara lahiriah aneh dan ganjil bisa jadi secara substansial benar-benar adil. Bagaimana sesuatu yang yang secara kasat mata terlihat pahit, menjadi benih-benih bagi akhir yang manis dan membahagiakan.

       Jawaban Rasulullah juga memberi pesan agar orang beriman jangan sampai mudah silau dan terpukau dengan gemerlapnya dunia yang dimiliki oleh orang kafir. Karena setiap mukmin punya pengharapan lain yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan abadi di akhirat, pada keaslian kampung halaman yang sedang dituju.
             Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

      “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 561).
Read More

Wednesday, November 19, 2014

VIDEO ADVANTURE TO MANGLAYANG MONTAIN BERSAMA GRQ

VIDEO ADVANTURE TO MANGLAYANG MONTAIN BERSAMA GRQ

09-11-2014 tepatnya Hari minggu, pondok tahfizh GRQ ( generasi rabbani qurani ) mengadakan advanture ke puncak gunung manglayang dengan ketinggian 1818 MPDL kegiatan ini bertujuan agar santri benar-benar mengenal dan menyaksikan kekuasaan dan kemahakuasaan allah, semua santri yang mengikuti advanture atau lebih kepada tadabur alam ini sangat antusias dan semangat mengikutinya. jika penasaran tonton video di atas.
                                                                 PHOTO SANTRI GRQ

 
Read More
 VIDEO KEGIATAN WEEKEND QURANI BERSAMA GRQ

VIDEO KEGIATAN WEEKEND QURANI BERSAMA GRQ

                                VIDEO KEGIATAN WEEKEND QURANI BERSAMA GRQ
weekend qurani  adalah salah satu program kegiatan Pondok Tahfizh GRQ ( generasi rabbani qurani ) yang sudah rutin dilaksanakan dalam satu pekan sekali yakni malam minggu, adapun kegiatan yang dilaksanakan meliputi :
 * 09:00 - 10:00 ---> Tasmi 1 : 1 juz
 * 10 : 00 - 11:00 --> Taujih
 * 20:00 - 21:00 ---> Tasmi 2 : 1 juz
 * 21-00 - 22:00  --> Muhadloroh
 * 02:00 - 03:00 ---> Imam 1 : Tahajud 1 Juz
 * 03:00 - 04 :00 --> Imam 2 : Tahajud 1 Juz
# awal bulan untuk tahajud 3 juz

Read More
Khutbah Singkat

Khutbah Singkat

Al Qur’an adalah imam kita


Setiap penganut agama didunia ini mempunyai kitab yang dianggapnya sebagai kitab suci orang hindu punya kitab weda, orang buda kita tripitaka, yahudi taurat, nasrani injil, konghuju tautehcing, dan lain sebagainya. Sementara kita umat islam diberi kitab al quran, mengapa kita yakini quran ini sebagai kitab suci.
  •  Bebas interpensi dari investasi dari manusiawi ia sepenuh baik isi maupun redaksi adalah produk dari Allah swt, suatu kitab dapat dikatakan suci jika ia tidak terepas dari interpensi dan investasi manusia. Karena sampai saat hari ini belum ada seseorang yang sanggup membuat Al Qur’an.   Al Qur’an turun 14 abad yang lalu sampai hari ini juga belum ada yang sanggup membuat satu surat saja.  Pernah saat zaman Nabi Muhammad SAW, pernah musailamah al Kadzab  pernah membuat satu syair yang mirip dengan surat dalam  Al qur’an  tetapi tidak sesuai dengan tata bahasa dan artinya tidak sesuai dengan kehidupan.
  • Isi Al Qur’an dan ajarannya sesuai dengan fitrah manusia
Kita coba lihat isi dan ajaran Al qur’an sesuai dengan fitrah manusiawi, contohnya manusia fitrahnya menjadi peminpin didunia ini dan dial qur’an pun juga ada ayat yang menerangkan kepemimpinan manusia.   
  • Isi Al Qur’an tidak kontroversiDimana didalam Al Qur’an mengatakan merah, maka kita juga harus mengikuti merah, ketika Al Qur’an mengatakan halal maka kita juga harus mengikuti halal, dan sebaliknya. Tapi mirisnya dizaman modern jangan sampai Al Qur’an diannggap tidak modern alias ketinggalan zaman, maka yang seperti itu mereka udah keluar dari jalur Al Qur’an.

Bagaimana kita menjadikan Al Qur’an adalah imam kita adalah kita menduhulukan Al Qur’an sebelum kita melangkah. Bacalah alqur’an karena Al Qur’an akan menjadi penerang dalam kuburan,dan juga akan menolong kita diakherar. Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu membaca alqur’an dan mengamalkannya. Amien
Read More
Google Maps

Alamat Kami