2014 - GRQ TAHFIZH
GRQ UPDATE
JAM BUKA SEKRETARIAT( 08.00 s/d 16.00 WIB)

Yuk Follow

Sunday, December 14, 2014

FORMULIR PENDAFTARAN SANTRI BARU

FORMULIR PENDAFTARAN SANTRI BARU


 Panduan Pendaftaran Online Pondok Tahfizh GRQ :

1. klik Link downlod Formulir : Formulir Santri Baru

2. Setelah di downlod silahkan isi dengan lengkap

3. setelah selesai mengisi silahkan Kirimkan file datanya ke emali Pondok tahfizh GRQ :        grqtahfizh@gmail.com

4. selanjutnya  tunggu konfirmasi dari kami untuk Informasi waktu tes tahfizh dan tahsin.
Read More

Wednesday, December 3, 2014

Hafalan Al-Qur’an untuk Anak Kecil

Hafalan Al-Qur’an untuk Anak Kecil


Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab, “Iya, sepantasnya ayah dan ibu membacakan Al-Qur’anul Karim kepada anak mereka agar si anak menghafalnya dan keduanya memperingatkan si anak agar tidak membaca Al-Qur’an di tempat yang tidak sepantasnya. Kalau toh anak-anak tetap melakukannya maka mereka belum mukallaf (belum dibebani syariat, belum terkena perintah dan larangan, pen.). Mereka tidak berdosa. Ketika ayah atau ibu mendengar si anak membacanya di tempat yang tidak layak, hendaknya menerangkan bahwa hal itu tidak boleh.
Anak kecil harus dihasung untuk banyak menghafal Al-Qur’an. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari tentang ‘Amr ibnu Salamah Al-Jarmi [1] yang menjadi imam bagi kaumnya, padahal usianya baru enam atau tujuh tahun. Dan itu terjadi di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 151)
_______________________
[1] ‘Amr bin Salamah menuturkan kelengkapan kisahnya: Kami bermukim di dekat sebuah mata air yang biasa dilewati orang-orang. Suatu ketika serombongan musafir yang berkendaraan melewati kami. Kami pun bertanya kepada mereka, “Bagaimana kabarnya orang-orang? Ada apa dengan mereka? Bagaimana dengan lelaki yang sedang ramai pemberitaannya?” Mereka menjawab, “Lelaki itu mengaku Allah-lah yang mengutusnya dan memberi wahyu kepadanya. Allah mewahyukan kepadanya ini dan itu (dengan membacakan wahyu Al-Qur’an yang mereka maksud).” Aku pun menghafal wahyu berupa ayat-ayat Al-Qur’an tersebut seakan-akan menempel dalam dadaku.
Sementara itu kabilah-kabilah Arab menunda keislaman mereka sampai Fathu Makkah. Mereka mengatakan, “Biarkan dia dan kaumnya. Bila dia menang atas kaumnya berarti memang dia nabi yang benar.”
Tatkala terjadi Fathu Makkah, setiap kaum bersegera masuk Islam. Ayahku mendahului kaumku dalam berislam. Saat ayahku datang dari menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Demi Allah! Aku datang kepada kalian dari sisi nabi yang haq (benar-benar seorang nabi). Nabi itu berkata, “Shalatlah kalian shalat ini di waktu itu dan shalat itu di waktu ini. Apabila datang waktu shalat, hendaklah salah seorang dari kalian menyerukan adzan dan hendaknya orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya mengimami kalian.”
Mereka pun melihat siapa yang paling banyak hafalannya. Ternyata tidak ada seorang pun dari kaumku yang paling banyak hafalannya melainkan aku, karena sebelumnya aku mendapatkannya dari rombongan musafir. Kaumku pun memajukan aku di hadapan mereka untuk mengimami mereka, padahal saat itu usiaku masih enam atau tujuh tahun.
Saat mengimami mereka aku mengenakan pakaian yang pendek. Bila aku sujud, pakaian itu terangkat dari bagian bawah tubuhku. Seorang wanita dari kampung (yang ikut shalat bersama jamaah) lalu berkata, “Tidakkah kalian menutupkan dari kami pantat pembaca Al-Qur’an kalian itu?” Kaumku lalu membelikan untukku pakaian dan mereka pakaikan kepadaku. Tidaklah aku bergembira memperoleh sesuatu sebagaimana gembiraku mendapat pakaian tersebut.” (HR. Al-Bukhari) –pen.
Read More
Hukum Belajar Tajwid Al Qur’an

Hukum Belajar Tajwid Al Qur’an

03 Desember 2014

Hukum belajar ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Kalau ada dalam suatu tempat ada seseorang yang menguasai ilmu ini maka bagi yang lainnya tidak menanggung dosa, kalau sampai tidak ada maka seluruh kaum muslimin menanggung dosa.
Sedangkan membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah wajib ‘ain artinya bagi seorang yang mukalaf baik laki-laki atau perempuan harus membaca Al Qur’an dengan tajwid, kalau tidak maka dia berdosa, hal ini berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan ucapan para ulama.
1. Dalil-dalil dari Al Qur’an
1. Firman Allah Azza wa Jalla:
“…dan bacalah Al Qur’an itu dengan tartil.” (Al Muzzammil: 4)
Maksud tartil itu adalah membaguskan huruf dan mengetahui tempat berhenti, keduanya ini tidak akan bisa dicapai kecuali harus belajar dari ulama atau orang yang ahli dalam bidang ini, dan perintah ini menunjukkan suatu kewajiban sampai datang dalil yang bisa merubah arti tersebut.
2. Firman Allah Azza wa Jalla:
“Orang-orang yang telah kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Baqarah: 121)
Dan mereka tidak akan membaca dengan sebenarnya kecuali harus dengan tajwid, kalau meninggalkan tajwid tersebut maka bacaan itu menjadi bacaan yang sangat jelek bahkan kadang-kadang bisa berubah arti. Ayat ini menunjukkan sanjungan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang membaca Al Qur’an dengan bacaan sebenarnya.
3. Firman Allah Azza wa Jalla:
“Dan kami membacanya dengan tartil (teratur dengan benar).” (Al Furqan: 32)
Ini adalah sifat Kalamullah, maka wajib bagi kita untuk membacanya dengan apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla.
2. Dalil-dalil dari As Sunnah
1. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya bagaimana bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab bahwa bacaan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu dengan panjang-panjang kemudian dia membaca “Bismillahirrahman arrahiim” memanjangkan (bismillah) serta memanjangkan (ar rahmaan) dan memanjangkan ar rahiim.” (HR. Bukhari)
2. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat agar mengambil bacaan dari sahabat yang mampu dalam bidang ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mintalah kalian bacaan Al Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah para sahabat yang mulia, padahal mereka itu orang-orang yang paling fasih dalam pengucapan Al Qur’an masih disuruh belajar, lalu bagaimana dengan kita orang asing yang lisan kita jauh dari lisan Al Qur’an?
3. Dan dalil yang paling kuat sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur ketika Ibnu Mas’ud menuntun seseorang membaca Al Qur’an. Maka orang itu mengucapkan:
“Innamash shadaqatu lil fuqara-i wal masakin.”
Dengan meninggalkan bacaan panjangnya, maka Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu katakan, “Bukan begini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat ini kepadaku.” Maka orang itu jawab, “Lalu bagaimana Rasulullah membacakan ayat ini kepadamu wahai Abu Abdirrahman?” Maka beliau ucapkan:
“Innamash shadaqaatu lil fuqaraa-i wal masaakiin.”
Dengan memanjangkannya. (HR. Sa’id bin Mansur)
Ibnu Mas’ud langsung menegur orang ini padahal ini tidak merubah arti, akan tetapi bacaan Al Qur’an itu adalah suatu hal yang harus diambil sesuai dengan apa yang Rasulullah ucapkan.

3. Ijma’
Seluruh qura’ telah sepakat tentang wajibnya membaca Al Qur’an dengan tajwid.

Fatwa Para Ulama Dalam Permasalahan Ini
1. Fatwa Ibnu Al Jazary
Tidak diragukan lagi bahwa mereka itu beribadah dalam upaya memahami Al Qur’an dan menegakkan ketentuan-ketentuannya, beribadah dalam pembenaran lafadz-lafadznya, menegakkan huruf yang sesuai dengan sifat dari ulama qura’ yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. (Annasyr 1/210)
2. Fatwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Adapun orang yang keliru yang kelirunya itu tersembunyi (kecil) dan mungkin mencakup qira’at yang lainnya, dan ada segi bacaan di dalamnya, maka dia tidak batal shalatnya dan tidak boleh shalat di belakangnya seperti orang yang membaca “as sirath” dengan ‘sin’, pergantian dari “ash shirath, karena itu qira’at yang mutawatir. (Majmu’ Fatawa 22/442 dan 23/350)
Dari fatwa ini bisa kita ambil kesimpulan:
1. Tidak selayaknya seorang yang masih salah dalam bacaan (kesalahan secara tersembunyi) untuk menjadi imam shalat, lalu bagaimana dengan yang mempunyai kesalahan yang fatal seperti yang tidak bisa membedakan antara ‘sin’ dengan ‘tsa’ atau ‘dal’ dengan ‘dzal’, yang jelas-jelas merubah arti.
2. Secara tidak langsung Syaikhul Islam telah mewajibkan untuk membaca Al Qur’an dengan tajwid karena kesalahan kecil itu tidak sampai merubah arti, beliau melarang untuk shalat di belakangnya, lalu bagaimana dengan kesalahan yang besar.
3. Fatwa Syaikh Nashiruddin Al Albany
Ketika ditanya tentang perkataan Ibnul Jazary tersebut di atas, maka beliau mengatakan kalau yang dimaksud itu sifat bacaannya di mana Al Qur’an itu turun dengan memakai tajwid dan dengan tartil maka itu adalah benar, tapi kalau yang dimaksud cuma lafadz hurufnya maka itu tidak benar. (Al Qaulul Mufid fii Wujub At Tajwid, hal. 26)
4. Fatwa Asy Syaikh Makki Nashr
Telah sepakat seluruh umat yang terbebas dari kesalahan tentang wajibnya tajwid mulai zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai zaman sekarang ini dan tidak ada seorang pun yang menyelisihi pendapat ini. (Nihayah Qaul Mufid hal. 10)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Read More

Thursday, November 27, 2014

Amin, Satu Kata untuk Pelebur Dosa

Amin, Satu Kata untuk Pelebur Dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أذا أمن الإمام فأمنوا فإنه من وافق تأمينه تأمين الملائكة غفر له ما تقدم من ذنبه
Jika seorang imam mengucapkan ‘amin’ maka ucapkanlah pula ‘amin’ karena ungkapan amin seseorang yang bersesuaian dengan ungkapan amin para malaikat akan terampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Hadits di atas diriwayatkan oleh Bukhariy dan Muslim.
FAWA’ID AL-HADITS:
Faidah Pertama: Apa yang dimaksud dengan ungkapan amin?
Ungkapan amin bermakna ‘Allahumma istajib’ (Ya Allah, kabulkanlah).
Faidah Kedua: Apa hikmah mengucapkan amin setelah imam selesai membaca alfatihah?
Secara umum, dalam setiap kebaikan yang diperintahkan oleh Islam mengandung begitu banyak hikmah dan kebaikan untuk manusia itu sendiri. Ini sesuai dengan salah satu kaidah agung yang ditetapkan Islam:
الدين جاء لسعادة البشر
Islam terbit untuk kebahagiaan manusia”
Dalam hadits ini terdapat sebuah pelajaran yang mulia nan agung yaitu pensyariatan ungkapan amin dan keutamaan yang diperoleh bagi orang yang mengucapkannya.
Surat al-Fatihah mengandung do’a teragung, termulia dan terbaik seperti yang diungkpakan para ulama dalam kitab mereka. Secara umum, dalam kitab-kitab yang mensyarah hadits ini, diungkapkan bahwa pensyariatan amin dikaitkan dengan doa yang termaktub dalam al-Fatihah.
Faidah Ketiga: Kapan amin diucapkan?
Para ulama menjelaskan bahwa amin diucapkan beberapa saat setelah imam selesai membaca surat al-Fatihah.
Faidah Keempat: Apakah ma’mum mengucapkan amin mendahului imam atau setelah ungkapan amin sang imam?
Dari hadits tersebut nampak bahwa amin sang imam lebih dahulu dibanding amin ma’mum namun jumhur ulama menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan “ammana al-imam (أمن الإمام)” adalah saat sang imam akan memulai ungkapan amin. Saat inilah ma’mum bersegera mengucapkan amin sehingga ungkapan imam dan ma’mu menyatu dalam satu waktu.
Faidah Kelima: Bolehkan ma’mum mendahului amin imam?
Tidak boleh bagi makmum mendahului unngkapan amin sang imam atau mengakhirkannya agar mendapat keutamaan besar yang disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini.
Faidah Keenam: Apakah yang terhapus adalah semua jenis dosa?
Secara umum, dalam ilmu Ushul Fiqh, lafadz “maa (ما)” adalah “ism maushul” yang bermakna umum. Artinya, berdasarkan redaksi di atas, dosa yang disebutkan mengandung dosa kecil dan besar. Namun, para ulama yang meneliti nash mengungkapkan bahwa pengguguran dosa yang dimaksud dalam hadits di atas dan hadits lain yang sejenisnya berhubungan dengan dosa kecil saja.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy mengungkapkan bahwa semua nash yang mengandung pengampunan dosa ditujukan terhadap dosa kecil, bukan dosa besar. Dosa besar gugur dengan taubat yang dilakukan seorang hamba.
Faidah Ketujuh: apa yang dimaksud dengan “muwaafaqah (موافقة)/berkesesuaian”?
Para ulama berbeda pendapat tentang makna “muwaafaqah (موافقة)/berkesesuaian.”
  1. Kesamaan waktu. Artinya, amin ma’mum dan amin para malaikat bersamaan di waktu yang sama. Kebersamaan do’a dan berpadunya waktu adalah salah satu factor diterimanya doa apalagi doa tersebut bersesuaian dengan doa para malaikat yang memang tidak bermaksiat kepada Allah, melakukan apa yang Allah perintahkan, bershaf-shaf di sisi Allah, bertasbih dan bersujud kepada Allah ‘azza wajalla.
  1. Kesamaan ma’mum dengan sifat dan keadaan malaikat yaitu memandang kerendahan diri saat berdoa, menundukkan hati dan khusyu’ karena Allah tidak menerima doa dari hati dan jiwa yang lalai.
Faidah kedelapan: Siapa malaikat yang disebutkan dalm hadits di atas?
Para ulama menjelaskan bahwa para malaikut pun mendengar bacaan imam. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang malaikat mana saja yang dimaksudkan dalam hadits di atas.
Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah al-Bassam mengungkapkan bahwa malaikat yang dimaksud adalah malaikat yang ikut menyaksikan shalat tersebut baik malaikat yang ada di bumi maupun malaikat yang ada di langit.
Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin mengungkapkan bahwa malaikat yang dimaksudkan hanyalah malaikat yang diijinkan Allah untuk mengucapkan amin bersama orang yang shalat. Dan ini tidak berlaku bagi malaikat yang tidak diijinkan Allah.
Penutup:
Ada banyak sekali permasalahan fiqhiyyah yang berkaitan dengan hadits di atas, misalnya status hukum ucapan amin dalam shalat, apakah imam wajib membaca amin baik dengan mengeraskan hingga terdengar makmum atau dengan suara pelan, ataukah sebatas sunnah baginya, dan permasalahan lain.
Hanya saja, alangkah baiknya bagi imam dan makmum, dan ini begitu disarankan para ulama, untuk membaca amin dalam waktu yang sama dengan suara yang terdengar sehingga mereka mendapat keutamaan penghapusan dosa. Begitu pula ketika membaca amin diharapkan dengan hati yang khsuyu’ penuh ketundukan sehingga menyerupai keadaan para mailaikat.
Sungguh, kita dapati sebagian saudara kita begitu lalai membaca amin dalam shalat padahal para ulama mengungkapkan bahwa kesempatan membaca amin dalam shalat ini dengan ungkapan:
هذه غنيمة جليلة وفرصة ثمينة ألا وهي غفران الذنوب بأيسر الأسباب فلا يفوتها إلا محروم
Ini adalah harta/kemenangan (peraihan sesuatu tanpa ada kesulitan sedikit pun –ed) yang mulia dan kesempatan yang begitu berharga yaitu pengampunan dosa dengan wasilah yang paling mudah. Orang yang terluput dari kesempatan ini hanyalah orang-orang yang memang diharamkan untuk meraihnya ”
Referensi:
  1. Ta’liqat ‘ala ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’diy, Dar a’Atsar, Mesir.
  2. Mandzumah Ushul al-Fiqh wa Qawa’iduhu, karya Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Dar Ibn Jauziy, Saudi Arabia
  3. Taisiyr al-‘Allam Syarh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam, Dar al-Aqidah, Mesir.
  4. Syarh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Sa’ad bin Nashir as-Syatstriy, Dar Kanuz Isybilya, Arab Saudi
  5. Tanbih al-Afham Syarh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, Maktabah as-Shabah, Mesir.
  6. Zubdah al-Afham bi Fawa-idh ‘Umdah al-Ahkam, karya syaikh Abu ‘Usamah Salim bin ‘Ied al-Hilaliy, Dar Ibn Hazm, Libanon.
Read More
Surat Makiyyah dan Madaniyyah

Surat Makiyyah dan Madaniyyah



Surat Makiyyah dan Madaniyyah

          Al Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Sebagian besar ayat Al Qur’an tersebut diturunkan di kota Mekah. Para ulama membedakan surat dalam Al Qur’an menjadi dua yaitu: Makiyyah dan Madaniyyah.
Makiyyah adalah surat/ ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum beliau hijrah ke kota Madinah. Adapun Madaniyyah adalah surat/ ayat yang diturunkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau hijrah ke kota Madinah.
Perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyyah dari segi gaya bahasa

1. Ayat-ayat Makiyyah umumnya memiliki uslub (gaya bahasa) yang kuat, kalimatnya keras. Hal ini karena kebanyakan masyarakat ketika itu adalah orang-orang yang suka menentang Islam dan orang-orang yang sombong. Sebagai contoh surat Makiyyah adalah surat Al Mudatstsir dan Al Qomar.
Adapun ayat-ayat Madaniyyah umumnya memiliki gaya bahasa yang lembut, mudah dicerna kalimatnya. Hal ini karena kebanyakan masyarakat ketika itu adalah orang-orang yang menerima dan orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Islam. Sebagai contoh adalah surat Al Maidah.

2. Surat Makiyyah umumnya memiliki ayat-ayat yang pendek dan pendalilannya kuat. Hal ini karena masyarakat yang diajak bicara umumnya adalah orang-orang yang suka menentang dan susah menerima dakwah Islam. Oleh karena itu mereka didakwahi sesuai dengan keadaan mereka, sebagai contoh adalah surat Ath-Thuur.

Adapun surat Madaniyyah umumnya memiliki ayat-ayat yang panjang dan membicarakan mengenai hukum. Sebagai contoh adalah surat Al Baqarah.

Perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyyah dari segi tema
1. Surat-surat Makiyyah umumnya berisi tentang Tauhid dan bagaimana aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyyah dan Iman terhadap hari akhir karena kebanyakan masyarakat pada saat itu adalah orang-orang yang mengingkarinya.
Adapun surat Madaniyyah umumnya berisi tentang perincian-perincian ibadah dan muamalah. Hal ini karena obyek dakwah ketika itu adalah orang-orang yang Tauhid dan aqidahnya telah kuat terpatri dalam jiwa mereka.

2. Adanya penjelasan tentang jihad dan hukum-hukumnya, adanya penjelasan mengenai orang-orang munafik dan keadaan mereka dalam ayat-ayat Madaniyyah karena sesuai dengan keadaan saat itu, di mana ketika itu mulai diwajibkannya jihad dan mulai muncul kemunafikan yang perkara ini belum muncul ketika periode Mekah.

Faidah memahami perbedaan surat Makiyyah dan Madaniyyah
Memahami perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyyah merupakan perkara yang sangat penting karena di dalamnya terdapat faidah yang banyak, di antaranya adalah:
1. Mengetahui keindahan gaya bahasa Al Qur’an yang memilki tingkatan paling tinggi, karena bahasa Al Qur’an disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menjadi obyek dakwah ketika itu, terkadang bahasanya keras dan tegas dan terkadang bahasanya lembut dan mudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang menjadi obyek dakwah.

2. Mengetahui hikmah diturunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur sesuai dengan perkara yang paling penting yang dibutuhkan masyarakat ketika itu sehingga mereka lebih mudah untuk menerima dan mengambil faidahnya.

3. Mengajarkan para da’i yang berdakwah di jalan Allah dan mengarahkan mereka untuk mengikuti metode Al Qur’an dalam hal gaya bahasa dan tema disesuaikan dengan sasaran dakwah. Dengan cara memulai dari yang paling penting kemudian yang lebih penting. Menggunakan bahasa yang tegas maupun lembut disesuaikan pada tempatnya.

4. Membedakan antara ayat yang Nasikh (yang menghapus) dengan Mansukh (yang dihapus hukumnya) sekiranya terdapat dua ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang terlihat bertentangan dan tercapai di antara keduanya syarat-syarat Naskh (penghapusan). Jika syarat Naskh terpenuhi maka ayat Madaniyyah akan membatasi hukum ayat Makiyyah karena ayat Madaniyyah turun lebih akhir dibanding ayat Makiyyah.
Diringkas dari kitab “Ushul fit-tafsiir” karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin cetakan Daar Ibnul Jauzi
Read More
Syeikh As-Sudais : Pegang Teguh Nilai Al-Qur’an Jika Ingin Bahagia

Syeikh As-Sudais : Pegang Teguh Nilai Al-Qur’an Jika Ingin Bahagia




Syeikh As-Sudais : Pegang Teguh Nilai Al-Qur’an Jika Ingin Bahagia

Berita dari PPPA Pusat Jakarta

 
Imam Masjidil Haram Syeikh Abdurrahman bin Abdul Azis As-Sudais berpesan agar umat Islam memegang teguh ajaran Al-Qur'an jika ingin selamat dan mendapat keberkahan di dunia dan akhirat.

"Umat Islam wajib berakhlak dengan akhlak Al-Qur'an, mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi. Gunakan nilai-nilai Al-Qur'an dirumah, di lingkungan juga pada urusan politik" ujar Syeikh Sudais kepada wartawan di kantor Atase Agama Kerajaan Arab Saudi, Kamis (30/10).

Hadir dalam pertemuan tersebut Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Mustafa Ibrahim Al Mubarak dan pengasuh Pondok Pesantrean Tahfidz Daarul Qur'an Ustadz Yusuf Mansur.

Dalam kesempatan tersebut Syeikh Sudais juga meminta umat Islam untuk menjaga Al-Qur'an dengan cara membaca, menghafal dan mengamalkannya.

"Al-Qur'an harus sering dibaca selayaknya koran dirumah kita, lalu setelah itu dihafal dan diamalkan" ujarnya.

Syeikh Sudais juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan organisasi Islam di Indonesia atas bantuan dan peran serta dalam menyebarkan dakwah Al-Qur'an.

Sementara itu Ustadz Yusuf Mansur mengatakan kedatangan Imam Besar Masjidil Haram tersebut menjadi motivasi bagi Daarul Qur'an untuk lebih semangat lagi dalam mendakwahkan Al-Qur'an di Indonesia.

"Kami akan mengajak masyarakat untuk bersama-sama terlibat dalam dakwah Al-Qur'an di Indonesia. Insya Allah, sebagaimana yang disampaikan oleh Syeikh tadi jumlah penghafal Al-Qur'an di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya" ujar pengasuh Pomps Tahfidz Daarul Qur'an tersebut.
Read More

Monday, November 24, 2014

Friday, November 21, 2014

TARGET HAFIZH DALAM 6 BULAN ( Cerita Si anak kalimantan )

TARGET HAFIZH DALAM 6 BULAN ( Cerita Si anak kalimantan )

           
               Cerita menarik tersaji di pondok tahfizh GRQ ( generasi rabbani qurani ), cerita ini datang dari sosok pemuda penghafal al-qur’an beliau memiliki latar belakang keturunan luar jawa tepatnya kalimantan, berawal dari  tekad dan niat yang begitu menggebu-gebu beliau mengajukan diri untuk menuntut ilmu di tanah jawa  sebagai penghafal al-qur’an. Berbagai informasi ia cari tentang adanya pesantren tahfizh yang benar-benar berkualitas dan tentunya gratis, ia cari baik lewat media ataupun kerabat terdekat. Dan akhirnya dari berbagai informasi tersebut ia temukan pondok yang pas untuk meraih cita-cita dan harapannya, dukungan dan dorongan orang tua menjadi tambahan semangat dan motivasi yang tinggi untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya, tak mau lama ia pun kemudian berangkat dari kampung halamannya menuju kota santri di jawa barat tersebut,  dan hinggaplah ia berada di salah satu pondok tahfizh yang berada di jawa barat, pondok tahfizh generasi rabbani qurani atau sering di singkat dengan dengan (GRQ) sebagai labuhannya, adapun lokasi tempatnya berada di cileunyi kulon yang beralamat di KOMPLEK VILLA BANDUNG INDAH.
               Siapa nama dari sosok orang kalimantan ini ?,  NURWAHID ALFAN adalah nama yang diberikan kedua orang tuanya, dengan penuh pengharapan nama tersebut mudah-mudahan menjadi nama yang baik menurut allah, beliau lahir pda tanggal 03-11-1999 putra ke 3 yang dilahirkan seorang ibu yang alim dan shalehah yang bernama AMOYATI dan bapak-nya MASELUKI. Beliau memiliki cita-cita menjadi guru besar  yang tentu dapat bermanfaat bagi semua orang, untuk menggapai cita-cita tersebut ia mulai dengan langkah awal sebagai hafizh qur’an dengan target 6 bulan. Beliau menceritakan motivasinya masuk lembaga tahfizh ini kepada penulis “ terlihat zaman yang kian merosot kejaman kenistaan dimana orang hanya selalu mementingkan pekerjaan duniawi dan al-qur’an sebagai bacaan yang tidak layak lagi untuk dibaca bahkan hanya menjadi pajangan belaka, dan saya ingin mengubah kebiasaan ini “ tuturnya.
               Singkat cerita, dengan kunci mujahadah yang istiqamah beliau hingga saat ini sudah menghafal 14 juz 11 halaman dalam kurun waktu 2 bln setengah, menurutnya “ tidaklah mudah untuk bisa sampai 14 juz 11 halaman, perlu adanya kerja keras dan mujahadah yang betul-betul istiqamah dalam diri kita, dikalala orang lain tidur ia sempatkan untuk terus menghafal hingga targetnya tercapai”  sebuah pencapaian yang baik dan sesuai dengan apa yang di planingkan sebelumnya, maka akan pantas jika ia dalam 6 bulan ini dapat menyelesaikan hafalnnya dan menjadi hafizh itu semua terlihat dalam waktu kurang dari 3 bulan ini ia selesaikan 15 juz kurang.  
               Adapun metode yang yang ia pakai dalam menghafal al-qur’an adalah “ menghafal per-ayat”, agar tercapai targetnya beliau selalu melakukan amal shaleh yakni dengan berpuasa sunah dan puasa nadzar, dengan pengharapan allah memberikan kemudahan, kelancaran dalam menghafalnya.
               Sebuah kata mutiara ia sampaikan kepada penulis “ Don’t think to be the best, but think to do the best ” dan sebuah pesan “ lakukanlah sesuatu selagi engkau mampu dan bertakwalah kepada allah.”   
               Harapan penulis mudah-mudahan apa yang di cita-citakan oleh beliau dapat tercapai dan terealisasikan dengan baik. Amin..
Read More

Thursday, November 20, 2014

Dan Umar Pun Menangis

Dan Umar Pun Menangis

            Siapa yang tak mengenal Umar Ibnul Khathab -radhiallahu’anhu-. Sosok yang memiliki tubuh kekar, watak yang keras dan berdisiplin yang tinggi serta tak kenal gentar. Namun di balik sifat tegasnya tersebut beliau memiliki hati yang lembut.
Suatu hari beliau masuk menemui Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- di dalam rumahnya, sebuah ruangan yang lebih layak disebut bilik kecil disisi masjid Nabawi. Di dalam bilik sederhana itu, beliau mendapati Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- sedang tidur di atas tikar kasar hingga gurat-gurat tikar itu membekas di badan beliau.
           Spontan keadaan ini membuat Umar menitikkan air mata karena merasa iba dengan kondisi Rasulullah.
Mengapa engkau menangis, ya Umar?” tanya Rasulullah.
Bagaimana saya tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas,” sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, ya Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih-Nya,” jawab Umar.

     Rasulullah kemudian menghibur Umar, beliau bersabda: “Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang juga, dan tak lama lagi akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…? “.
Beliau shallallahu alaihi wasallam melanjutkan lagi, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya“.
Begitulah sahabat…

          Tangisan Umar adalah tangisan yang lahir dari keimanan yang dilandasi tulusnya cinta kepada Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-. Apa yang dilihatnya membuat sisi kemanusiaannya terhentak dan mengalirkan perasaan gundah yang manusiawi. Reaksi yang seolah memberi arti bahwa semestinya orang-orang kafir yang dengan segala daya dan upaya berusaha menghalangi kebenaran, memadamkam cahaya iman, dan menyebarkan keculasan dan keburukan, mereka itulah yang semestinya tak menikmati karunia Allah. Sebaliknya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islamlah semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak, begitu fikir Umar.

          Tangisan Umar juga memberi arti lain, bahwa betapa tidak mudah bagi sisi-sisi manusiawi setiap orang bahkan bagi Umar sekalipun, untuk menerima ganjilnya “pemihakan” dunia kepada orang-orang bejat. Namun sekejap gundah dan tangisnya berubah menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman sesudahnya. Yaitu apabila kita mengukur hidup ini dengan timbangan duniawi, maka terlalu banyak kenyataan hidup yang dapat menyesakkan dada kita.

         Lihatlah bagaimana orang-orang yang benar justru diinjak dan dihinakan. Sebaliknya, para penjahat dan manusia-manusia bejat dipuja dengan segala simbol penghargaan. Tak perlu heran, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan akan masa-masa sulit itu. Masa dimana orang-orang benar didustakan dan orang-orang dusta dibenarkan.
        Tangis Umar juga mengajari kita bahwa dalam menyikapi gemerlapnya dunia, kita tidak boleh hanya menggunakan sisi-sisi manusiawi semata, dibutuhkan mata hati bukan sekedar mata kepala. Dibutuhkan ketajaman iman, dan bukan semata kalkulasi duniawi.
Dan semua itu tercermin dalam jawaban Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam- kepada Umar. Beliau memberi gambaran yang membuat sesuatu yang secara lahiriah aneh dan ganjil bisa jadi secara substansial benar-benar adil. Bagaimana sesuatu yang yang secara kasat mata terlihat pahit, menjadi benih-benih bagi akhir yang manis dan membahagiakan.

       Jawaban Rasulullah juga memberi pesan agar orang beriman jangan sampai mudah silau dan terpukau dengan gemerlapnya dunia yang dimiliki oleh orang kafir. Karena setiap mukmin punya pengharapan lain yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan abadi di akhirat, pada keaslian kampung halaman yang sedang dituju.
             Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنهُ اسْتِدْرَاجٌ

      “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, dll, lihat Shahihul Jami’ no. 561).
Read More

Wednesday, November 19, 2014

VIDEO ADVANTURE TO MANGLAYANG MONTAIN BERSAMA GRQ

VIDEO ADVANTURE TO MANGLAYANG MONTAIN BERSAMA GRQ

09-11-2014 tepatnya Hari minggu, pondok tahfizh GRQ ( generasi rabbani qurani ) mengadakan advanture ke puncak gunung manglayang dengan ketinggian 1818 MPDL kegiatan ini bertujuan agar santri benar-benar mengenal dan menyaksikan kekuasaan dan kemahakuasaan allah, semua santri yang mengikuti advanture atau lebih kepada tadabur alam ini sangat antusias dan semangat mengikutinya. jika penasaran tonton video di atas.
                                                                 PHOTO SANTRI GRQ

 
Read More
 VIDEO KEGIATAN WEEKEND QURANI BERSAMA GRQ

VIDEO KEGIATAN WEEKEND QURANI BERSAMA GRQ

                                VIDEO KEGIATAN WEEKEND QURANI BERSAMA GRQ
weekend qurani  adalah salah satu program kegiatan Pondok Tahfizh GRQ ( generasi rabbani qurani ) yang sudah rutin dilaksanakan dalam satu pekan sekali yakni malam minggu, adapun kegiatan yang dilaksanakan meliputi :
 * 09:00 - 10:00 ---> Tasmi 1 : 1 juz
 * 10 : 00 - 11:00 --> Taujih
 * 20:00 - 21:00 ---> Tasmi 2 : 1 juz
 * 21-00 - 22:00  --> Muhadloroh
 * 02:00 - 03:00 ---> Imam 1 : Tahajud 1 Juz
 * 03:00 - 04 :00 --> Imam 2 : Tahajud 1 Juz
# awal bulan untuk tahajud 3 juz

Read More
Khutbah Singkat

Khutbah Singkat

Al Qur’an adalah imam kita


Setiap penganut agama didunia ini mempunyai kitab yang dianggapnya sebagai kitab suci orang hindu punya kitab weda, orang buda kita tripitaka, yahudi taurat, nasrani injil, konghuju tautehcing, dan lain sebagainya. Sementara kita umat islam diberi kitab al quran, mengapa kita yakini quran ini sebagai kitab suci.
  •  Bebas interpensi dari investasi dari manusiawi ia sepenuh baik isi maupun redaksi adalah produk dari Allah swt, suatu kitab dapat dikatakan suci jika ia tidak terepas dari interpensi dan investasi manusia. Karena sampai saat hari ini belum ada seseorang yang sanggup membuat Al Qur’an.   Al Qur’an turun 14 abad yang lalu sampai hari ini juga belum ada yang sanggup membuat satu surat saja.  Pernah saat zaman Nabi Muhammad SAW, pernah musailamah al Kadzab  pernah membuat satu syair yang mirip dengan surat dalam  Al qur’an  tetapi tidak sesuai dengan tata bahasa dan artinya tidak sesuai dengan kehidupan.
  • Isi Al Qur’an dan ajarannya sesuai dengan fitrah manusia
Kita coba lihat isi dan ajaran Al qur’an sesuai dengan fitrah manusiawi, contohnya manusia fitrahnya menjadi peminpin didunia ini dan dial qur’an pun juga ada ayat yang menerangkan kepemimpinan manusia.   
  • Isi Al Qur’an tidak kontroversiDimana didalam Al Qur’an mengatakan merah, maka kita juga harus mengikuti merah, ketika Al Qur’an mengatakan halal maka kita juga harus mengikuti halal, dan sebaliknya. Tapi mirisnya dizaman modern jangan sampai Al Qur’an diannggap tidak modern alias ketinggalan zaman, maka yang seperti itu mereka udah keluar dari jalur Al Qur’an.

Bagaimana kita menjadikan Al Qur’an adalah imam kita adalah kita menduhulukan Al Qur’an sebelum kita melangkah. Bacalah alqur’an karena Al Qur’an akan menjadi penerang dalam kuburan,dan juga akan menolong kita diakherar. Semoga kita menjadi orang-orang yang selalu membaca alqur’an dan mengamalkannya. Amien
Read More

Wednesday, October 1, 2014

Khutbah Iedul Adha 1435 H

Khutbah Iedul Adha 1435 H

HAKIKAT PENGORBANAN
Oleh :Ust. Jafar Sidiq Al Hafizh

Segala puji milik Alloh swt pemilik bumi,langit dan apa yang ada diantara keduanya
.
Segala puji milik Alloh swt  yang telah menjadikan kita cinta kepada keimanan dan  menjadikan iman itu indah dalam hati kita, serta menjadikan kita benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan.

Sholawat serta salam semoga tercurah kepada pimpinan kita Muhammad saw, Nabi yang mulia, keluarga dan seluruh sahabatnya

Allohu akbar Allohu akbar walillahilhamd,’aidin ‘aidat rohimakumulloh

Pada hari ini kaum muslimin di seluruh dunia bersama mengumandangkan takbir,tahmid dan tahlil.mengagungkanNya,memujiNya atas karunia yang senantiasa tercurah dan komitmen untuk senantiasa beribadah kepadaNya.

Pada hari ieduladha ini kita semua diingatkan pada peristiwa yang besar, peristiwa pengorbanan dua hamba Alloh yang mulia Ibrohim dan Ismail as, pengorbanan yang membuktikan cintanya pada Alloh swt adalah diatas segala-galanya. Pengorbanan yang menunjukan keimanan yang tidak ada keraguan sedikitpun.

Pengorbanan Ibrohim atas putranya yang ia cintai, yang ia damba-dambakan sejak lama, dengan do’a yang senantiasa dipanjatkan kepada Alloh swt:

Ya Robb , anugrahkanlah pada hamba anak yang solih.

 Lalu Alloh swt mengijabahnya, di usia 86 tahun beliau diberi karunia Ismail. Tercurahlah cinta dan kasih sayang pada Ismail, kemudian Alloh swt menguji kecintaan Ibrohim kepadaNya. Datanglah wahyu perintah untuk menyembelih putranya yang tercinta. Dan perintah itupun disampaikan kepada Ismail.

Wahai anakku ! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?

Ismail yang masih berusia 13 tahun menjawab dengan tegar, jawaban yang menunjukan keimanan yang kokoh, jawaban seorang anak yang telah terbina, jawaban yang siap merespon segala perintah, jawaban seorang yang ridlo terhadap qodlo Alloh swt.

Wahai bapakku lakukanlah apa yang diperintahkan (Alloh) padamu,Insya Alloh engkau akan mendapatkanku termasuk orang yang sabar.

Allohu akbar Allohu akbar walillahilhamd ‘aidin ‘aidat rohimakumulloh.

Tadlhiyyah atau Pengorbanan adalah satu kemestian , tiada perjuangan tanpa pengorbanan,
Yang dimaksud dengan pengorbanan disini adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala-galanya demi mencapai tujuan. Demi li I’laa  kalimatillah ( meninggikan kalimat Alloh) dalam pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan umat seluruh alam.
 Setiap pengorbanan sekecil apapun tidak akan disia-siakan oleh Alloh swt, bahkan akan diganti dengan pahala yang tak terhingga dan balasan yang baik.

Sesungguhnya Allah Telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka    dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu Telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang Telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah 111)

Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan dijalan Alloh, dan tidak menginjak tempat yang membangkitkan kemarahan orang-orang kafir,dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu ditulis sebagai amal sholih bagi mereka. Sungguh Alloh tidak akn menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik( At-Taubah 120)

Dan tidaklah mereka memberikan infak yang kecil maupun yang besar, dan tidak pula melintasi satu lembah, melainkan akan di catat (sebagai amal kebajikan) untuk dieri balasan oleh Alloh dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (AtTaubah 121)

Maka jika taat, Alloh pasti akan memberi kalian pahala yang baik ( AlFath 16)

Sesungguhnya Alloh tidak akan mendzolimi walaupun sebesar dzarroh, jika ada kebaikan (sebesar dzrroh), niscaya Alloh akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisiNya. (AnNisa 40.

Allohu Akbar Allohu Akbar walillahilhamd, ‘aaidin ‘aaidat rohimakumulloh.

Rasullulloh saw. Telah mendidik para sahabat untuk berjihad di jalan Allah swt, dan mengorbankan apa yang mereka miliki untuk membela Agama-Nya. Dan, Rasullullah saw, adalah pemimpin mereka dalam hal jihad dan pengorbanan.. Umat ini tidak akan baik kecuali dengan sesuatu yang menyebabkan baiknya umat pertamanya, dan tidak akan mendapatkan kemuliaan kecuali dengan apa yang menyebabkan kemuliaan umat pertamanya

Barang siapa yang menginginkan kebaikan dan perbaikan, serta kemuliaan dan kejayaan, tanpa jihad dan pengorbanan, maka ia adalah orang yang bermimpi serta salah sangka.

Barang siapa yang mencari kemuliaan tanpa besusah payah.
Berarti, menyia-nyiakan usia untuk mencari kemustahilan

Allohu Akbar Allohu Akbar walillahilhamd, ‘aaidin ‘aaidat rohimakumulloh

Setiap orang yang ridla Allah swt sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, serta Muhammad saw sebagai nabi dan rasul Allah, dituntut untuk berkorban.

Setiap orang yang telah menazarkan dirinya serta berjanji kepada Tuhannya untuk memperjuangkan Islam dan berjihad di jalan Islam, dituntut untuk memberikan pengorbanan besar.

Ini merupakan hakikat yang harus benar-benar dipahami secara jelas oleh kaum muslimin. Oleh karena itu, ia harus menyiapkan dirinya untuk berkorban.

,”Mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan segala-galanya untuk mencapai tujuan”. Ya, inilah pengorbanan yang diserukan oleh Alloh swt, dan inilah pengorbanan yang diajarkan oleh Rasullalloh saw. kepada para sahabatnya, semoga Alloh meridlai mereka.


“Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Alloh, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Alloh), maka Alloh akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.”(Al-Baqoroh:245)

Ketika Abu Dahdah mendengar ayat ini, maka tidak ada yang dapat ia lakukan, kecuali bersedekah dengan hartanya yang paling dicintai dan yang paling mahal.(Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 1/299, Darul Ma’rifah, Beirut).

Demikianlah kita dapat melihat tarbiyah kenabian yang dirasakan oleh para sahabat secara nyata dan aplikatif.

Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Mengorbankan seluruh hartanya, sehingga Rasullalloh saw, bertanya kepadanya,”Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar ra. Menjawab,”Aku tinggalkan mereka untuk Alloh dan Rasul-Nya.
Shuhaib ra.Mengorbankan apa yang dimiliki untuk membela agama Alloh swt. Sehingga turunlah ayat Al-Qur’an yang dibaca sepanjang masa, yang berkenaan dengannya dan orang-orang yang semisalnya,”Dan diantara manusia ada orang yang menorbankan dirinya karena mencari keridlaan Alloh, dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al-Baqoroh:207). Dan Rasullalloh saw, menyambutnya dengan mengucapkan ,”Jual beli yang menguntungkan, wahai Shuhaib!”.
Mush’ab bin ‘Umair, seorang pemuda perlente yang dimanja itu mengorbankan segala sesuatu yang dimiliki, sehingga ia menjadi teladan dalam masalah jihad dan pengorbanan bagi para pemuda muslim sepanjang masa.
Demikian juga para sahabat wanita ra, yang mulia. Mereka mengorbankan apa saja untuk Islam. Perhatikanlah Khadijah, Ummu Salamah, Ummu Sulaim, Nusaibah, Asma, dan masih banyak lagi shahabiyah yang  memiliki kisah nyata dalam pengorbanan. Hidup mereka dipenuhi dengan pengorbanan yang sangat mahal harganya.

Sejarah para sahabat dipenuhi oleh berbagai lembar pengorbanan, kesetiaan, perjuangan,dan kontribusi, dalam rangka memperjuangkan Islam dan menyebarkan dakwah.
Karena itu, selamat menikmati berbagai karunia Robbani untuk orang-orang yang telah berkurban, selamat atas mereka atas kebahagiaan batin yang mereka rasakan,dan selamat untuk mereka atas kenikmatan, kemuliaan, dan kedamaian di akhirat.

Allohu Akbar Allohu Akbar walillahilhamd, ‘aaidin ‘aaidat rohimakumulloh.

Tidak ada jihad tanpa pengorbanan

Ini merupakan hakikat yang harus dipahami secara jelas dan gamblang oleh setiap muslim.

Barang siapa yang menyangka bahwa ia dapat memberikan pelayanan pada Islam serta ikut ambil bagian dalam meninggikan bendera islam, namun ia bakhil untuk mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala-galanya, maka hendaklah mengoreksi kembali dirinya. Hendaklah membaca Kitab Alloh dengan baik. Hendaklah mengkaji Sirah Rasullalloh saw, secara serius, dan memperhatikan sejarah secara cermat, tentu ia akan mendapatkan kesimpulan yang sangat jelas. Lebih jelas dari sinar matahari di tengah siang hari. Kesimpulan itu adalah “Tiada kehidupan bagi dakwah tanpa jihad”dan”Tiada jihad tanpa pengorbanan”

Alloh dan Rosulnya sangat mengecam dan mengancam kepada mereka yang tidak mau berkorban di jalan Alloh dengan jiwa, harta, kehidupan , waktu dan segala-galanya yang Alloh anugerahkan kepada mereka. Perhatikanlah firman Alloh ini:

Sungguh Alloh tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.(yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh oranglain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah dierikan Alloh kepadanya. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir adzab yang menghinakan. ( AnNisa 36-37)

Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Alloh) serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kami akan mudahkan dia jalan menuju kesukaran(kesengsaraan) (AlLail 6-10)

Dan sungguh  janganlah mengira orang-orang yang bakhil degan apa yang diberikan Alloh kepada mereka dari karuniaNya, bahwa itu  baik bagi mereka, padahal (bakhil itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan ituakan dikalungkan dilehernya pada hari kiamat.Milik Allolah warisan(apa yang ada ) dilangit dan bumi. Alloh Maha mengabarkan terhadap apa yang kamu kerjakan. (Ali ‘Imron 180)

(Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan dalam neraka jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggng mereka, (seraya dikatakan kepada mereka) inilahharta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah (akibat dari) yang kamu simpan itu. (Attaubah 35)

Dan ketika seseorang bakhil dengan waktunya, tidak dipergunakan untuk beramal sholeh, maka satu waktu itu menjadi penyesalan yang dalam,dan penyesalan itu akan dirasakan ketika kematian datang.

Dan infakkanlah dari sebagian apa  yang kami telah berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang diantara kamu, lalu dia berkatq (menyesali):” Ya Tuhanku sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku teermasuk orang yang sholeh. (Almunafiqun 10)

Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka,dia berkata :” Ya Tuhan kembalikanlah aku kedunia, agar aku dapat berbuat baik yang telah aku tinggalkan.”Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.(Almukminin 99-100)

Akhirnya, marilah kita tutup khutbah ibadah shalat Ied kita pada hari ini dengan berdo’a:

 اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a.

 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.



Read More
Google Maps

Alamat Kami